|
|
-
-
-
-
-
-
-
-
-
|
|
-
-
-
-
-
-
-
-
|
|
-
-
-
-
-
-
-
|
|
|
|
|
| |
|
|
|
| |
Minum Obat Kuat Tak Selesaikan Masalah Disfungsi Ereksi
(22/12/2009 - 14:03 WIB)
Jurnalnet.com (Jakarta): Kebanyakan pria merasa malu membicarakan masalah disfungsi ereksi (DE) yang dialaminya.Alhasil, mereka mencari alteratif pengobatan, seperti pengobatan tradisional dan seringkali menimbulkan frustasi.
Ketika “Mr P” sudah tidak lagi berfungsi normal alias terjadi disfungsi ereksi (DE), sebaiknya seseorang segera memeriksakan diri ke dokter ahli, bukan menempuh cara tidak lazim, seperti pengobatan alternatif atau minum obat kuat pria. Melalui pengobatan secara intensif, ada harapan untuk dapat keluar dari problema DE.
Selama ini yang terjadi, kebanyakan pria menerima informasi yang salah tentang persoalan DE. Mereka lalu secara sembunyi mencari penyebab serta upaya penyembuhan tanpa memperhatikan efek samping dari obat-obatan yang belum tentu bisa menyelesaikan masalah.
Hasil penelitian AP Show Global Survey tahun 1995 menunjukkan bahwa ditemukan 152 juta pria di dunia mengalami DE dan diproyeksikan sekitar 322 juta pria atau meningkat 170 juta pria bakal mengalami DE pada 2025. Dari angka tersebut terdapat 13% dan 28% dialami pada pria berusia 40-80 tahun. Sedangkan di Asia lebih dari 20% pria usia 40-80 tahun mengeluh sakit, sedikitnya sekali dalam setahun terakhir mengalami DE.
Problema DE yang dialami pria terjadi karena penyakit, yakni mencapai 80-90%. Sejumlah penyakit dan faktor lain yang menjadi penyebab DE, antara lain kolesterol, diabetes, dan kebiasaan merokok.
“Selain itu gizi yang kurang baik dan penurunan hormon karena faktor usia juga berpengaruh, dan selebihnya sekitar 10% diakibatkan misscommunication dengan pasangan,” ungkap Prof Wimpie Pangkahila, ketua Perkumpulan Seksologi Indonesia, pada diskusi bertajuk Maximizing You: 10 Years MagniVicent Satisfaction di Jakarta kemarin.
Wimpie menjelaskan, sebaiknya pria yang mengalami DE sejak dini harus memeriksakan diri ke dokter, bukan mencari alternatif pengobatan lain yang dianggap ampuh, misalnya minum obat kuat.
Jika mendatangi dokter, si pasien akan didiagnosa, apakah DE yang dialami akibat masalah fisik atau psikis sehingga bisa cepat dicegah agar tidak menimbulkan masalah yang lebih fatal di kemudian hari.
Dunia kedokteran sudah lama menerapkan metode pengukuran DE dengan alat tes erection hardness score (EHS) yang bisa dilakukan secara mandiri. Penelitian AP Show menunjukkan, pria dengan kekerasan ereksi optimal lebih sering berhubungan seksual dan lebih merasa puas serta memiliki pola pikir positif atas kehidupan dibandingkan dengan pria yang hanya mengalami EHS tingkatan rendah, yakni skala 1, 2 atau 3.
Bagi penyandang DE, disarankan pula pengobatan secara intensif dapat membantu keluhan DE sehingga dapat mewujudkan tingkat ereksi maksimal agar memberi kepuasan dalam hubungan seksual dengan pasangannya. Selanjutnya mampu mencapai tingkat ereksi dengan kekerasan dan ketegangan maksimal sempurna (EHS tingkat 4).
Selain itu, juga mengonsumsi PDE5 inhibator, sejenis obat khusus untuk mengatasi problema DE. Obat khusus itu bekerja aktif menghambat enzim PDE5 yang menghasilkan peningkatan clinic guanosine monophosphate (cGMP) dan relaksasi otot polos di penis.
Pengobatan DE demikian di wilayah Asia, terbukti mampu meningkatkan seluruh aspek performa hubungan seksual yang hasilnya menunjukkan tingkat kepuasan dalam hubungan seksual 80% pada pria dan 77% pada perempuan.***(pdpersi)
|
|
Print |
Kirim Teman |
|
|
| |
|
| |
|
|
| |
| |
| |
|
|
|
All content © Copyright 1 Ramadhan 1425H JURNALNET.COM. Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Dilarang memperbanyak artikel yang termuat pada halaman JURNALNET.COM, tanpa seizin JURNALNET.COM.
Web Development PT. Internusa Sarana Perdana (Group)
|
|
|
|