HOME    
Nasional - Humaniraya - Metro - Ekbis - Mancanegara - Kesehatan - Iptek - Sketsa Muda - Entertainment - Sportif
Kosmopolitan - Etalase - Sosok - Keluarga - Fashion - Suplemen - Resensi - Kolom - Ruang Publik
Layan Publik - Aneka - Transportasi - Kursus/PLS - Agen - Iklan Baris - Harga-harga - Tentang Kami
MESIN PENCARI


   
 
Puasa yang Aman Bagi Ibu Hamil dan Menyusui

(28/08/2009 - 06:38 WIB)


Jurnalnet.com (Jakarta): Apakah seorang muslimah yang hamil atau menyusui bayi dibolehkan menjalankan puasa Ramadhan? Apakah berpuasa mempengaruhi gizi si ibu dan janin yang dikandungnya? Itulah pertanyaan klasik yang senantiasa terulang setiap datang bulan Ramadhan.

Proses kehamilan, kelahiran bayi dan masa menyusui merupakan kondisi alamiah yang secara kodrati dialami oleh kaum hawa. Secara alamiah pula seorang ibu akan melindungi dan memelihara janin agar tetap sehat dan bertumbuh secara normal. Janin yang sehat akan tercipta apabila seorang ibu dapat mengatur makanan yang dikonsumsinya secara sempurna.

Menurut dr Marly Susanti SpOG, ahli kebidanan dan kandungan Klinik Yasmin dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, tidak ada perbedaan antara perempuan hamil atau menyusui dan yang tidak. “Ibu hamil atau yang sedang menyusui tetap aman atau boleh puasa,” kata dia Jakarta, baru-baru ini.

Pada ibu hamil, kadar glukosa, insulin, laktat dan carnitin menurun, sedangkan trigliseride dan hydroxybutyrate meningkat. Dengan demikian ibu hamil yang mengerjakan puasa Ramadhan, berikut janinnya, tidak akan kekurangan gizi. Asalkan si ibu mengonsumsi makanan yang seimbang selama buka puasa, sahur, dan selama waktu di antara buka dan sahur. Puasa juga tidak mempengaruhi berat badan bayi yang akan lahir.

Puasa pada hakekatnya hanya mentranfer makan pagi, siang dan malam menjadi buka, sahur dan waktu di antaranya. Tubuh manusia dapat menyimpan makanan lalu menggunakannya saat diperlukan.

Namun demikian, menurut Marly, bila ibu hamil atau menyusui merasa lemah, pusing, mual atau masalah kesehatan yang ada hubungannya dengan puasa seperti hipertensi, sebaiknya segera membatalkan puasa dan langsung makan dan minum. “Indikator kekurangan kalori itu berupa rasa lemas, keluar keringat dingin, atau keringat dari ujung jari. Untuk mengatasinya, segera minum air teh manis,” ungkap Marly.

Demikian pula apabila hamil pada trimester pertama yang disertai mual-mual, muntah, dan muntah yang hebat (hyperemisis gravidarum), atau perdarahan, sebaiknya tidak berpuasa.

Berdasarkan hasil penelitian epidemiologi Cross&Friends terhadap 13.350 bayi Islam yang dilahirkan di Inggris, puasa tidak berdampak pada penurunan berat badan bayi yang baru lahir.

Sebuah penelitian lain juga membuktikan, tidak ada perubahan kadar kolesterol darah maupun kadar gula darah pada orang yang berpuasa, meski terjadi penurunan berat badan sampai 4%.Pada pengukuran kadar kolesterol darah pada pagi, siang, dan sore hari tidak menunjukkan pola perubahan tertentu, bahkan masih termasuk dalam batas-batas normal.

Dari aspek gizi, menurut dr Sanny Santana SpOG, spesialis kebidanan dan kandungan RSPAD Gatot Subroto Jakarta, puasa tidak menimbulkan dampak yang merugikan. Sebab, penurunan kadar gula darah maksimum umumnya terjadi pada sore hari saat menjelang berbuka. Maka itu, pada saat berbuka, dianjurkan terlebih dahulu makan makanan mengandung kandungan tinggi.

Saat sahur dan berbuka, Marly Susanti menganjurkan pada ibu hamil dan ibu menyusui untuk memenuhi kecukupan kadar kalori yang dibutuhkan, itu berasal dari makanan manis-manis sehingga gizinya lebih cepat diserap tubuh.

Bagi ibu hamil yang tetap menjalankan ibadah puasa, harus memperhatikan faktor bawaan yang kerap dijumpai pada setiap perempuan yang tengah mengandung. Fokus pada indeks makanan yang dikonsumsi selama melakukan puasa, juga perlu diperhatinkan oleh para ibu hamil.

Selain itu, para ibu hamil harus mengkonsumsi lebih sepertiga kali dari asupan makanan orang biasa. Selama menjalankan puasa, para ibu hamil untuk tetap melakukan kontrol secara rutin kepada dokter kehamilan, dimana hal terpenting yang harus terus terpantau adalah berat badan dari si ibu.

Idealnya, berat badan ibu hamil harus bertambah seiring dengan pertumbuhan berat badan bayi yang dikandungnya. Rata-rata berat bayi yang lahir dari ibu hamil dengan usia kehamilan 4-7 bulan yang menjalankan puasa adalah 3,3 kg. Angka itu tidak berbeda dengan ibu hamil yang tidak melakukan puasa.***(pdpersi)
Print Print   Send Kirim Teman
 
 
 
Berita Lainnya:
  Meminimalkan Bau Mulut pada Orang Berpuasa
27 Agustus 2009, 10:36 WIB
  Wanita Dewasa Rawan Terkena Hemifacial Spasm
26 Agustus 2009, 09:34 WIB
  Penderita HIV/AIDS Juga Perlu Dukungan Gizi yang Memadai
21 Agustus 2009, 06:43 WIB
  Dunia Kedokteran di Indonesia Belum Akui Obat Herbal
19 Agustus 2009, 07:32 WIB
  Jenis Makanan Pemicu Alergi Anak yang Perlu Diketahui Orang Tua
18 Agustus 2009, 14:23 WIB
Berita Terkait:
 
 
 
 
  Arsip