HOME    
Nasional - Humaniraya - Metro - Ekbis - Mancanegara - Kesehatan - Iptek - Sketsa Muda - Entertainment - Sportif
Kosmopolitan - Etalase - Sosok - Keluarga - Fashion - Suplemen - Resensi - Kolom - Ruang Publik
Layan Publik - Aneka - Transportasi - Kursus/PLS - Agen - Iklan Baris - Harga-harga - Tentang Kami
MESIN PENCARI


   
 
Kalkulator atau Ensiklopedia

(17/11/2008 - 09:38 WIB)


Jurnalnet.com (Jakarta): Pelajaran hitungan atau hafalan sama-sama menggunakan otak kiri. Artinya, hitungan harus berbagi tempat dengan hafalan. Mana yang dapat porsi lebih besar? Ada responden yang lebih memilih jadi ensiklopedia alias lebih suka pelajaran hafalan. Tapi, nggak sedikit pula yang lebih suka jadi "kalkulator" berjalan.

Siapa yang suka curi-curi pakai kalkulator saat bapak-ibu guru nggak memberikan izin, berarti meremehkan otaknya. Jangan salah lho, kalkulator cuma bisa dimasukin angka, sedangkan otak kita bisa menganalisis rumus. Kalau mau diasah, hitungan otak bisa lebih cepat daripada kalkulator. Mau bukti? Lihat tuh si Lintang Laskar Pelangi. Tinggal merem, ting, jawaban muncul. Great!

Hampir separo responden lebih suka mengasah otaknya untuk jadi kalkulator daripada kamus. Paling banyak, "kalkulator ajaib" ciptaan Tuhan itu menyukai hitungan matematika (53,5 persen), fisika (22,2 persen), disusul dengan kimia (10,6 persen). Buat mereka, pelajaran eksak seperti itu sangat menantang (40,4 persen).

Coba dengar penuturan Muhammad Zinda Ruud. Cowok yang menuntut ilmu di SMAN 9 tersebut mengaku cinta dengan dunia hitung-menghitung. Menghafal baginya adalah hal yang sangat membosankan.

Buktinya, saat belajar matematika Ruud bisa melek hingga larut malam. Sedangkan waktu merangkum tugas sosiologi, dia nggak bertahan lama, lalu ketiduran. "Ngerjain soal matematika kan susah tuh, bisa melek sampai lima jam. Tapi, waktu sosiologi, satu jam aja mata sudah berat," ujarnya.

Budi Wicaksono setuju dengan Ruud. Cowok di SMK 17 Agustus tersebut seribu kali lebih memilih menghitung daripada menghafal. Mau tahu alasannya? "Soalnya, menghafal nggak bisa melatih kita menghitung. Sedangkan menghitung bikin kita gampang menghafal," ucapnya.

Budi memberikan contoh rumus matematika. Kita nggak perlu menghafal mati-matian, cukup tahu konsep, lama-lama hafal sendiri. "Enak kan, nggak menuh-menuhi memori," imbuhnya.

Semula Budi menganggap matematika susah. Tapi, setelah bertemu dengan guru matematika yang amat jelas menerangkan, dia berbalik cinta. "Bahkan, aku sekarang milih jurusan informatika, yang banyak logika dan hitungannya," ujar cowok yang mengaku anak band tersebut.

Setali tiga uang dengan penggemar fisika yang satu ini, Anita Rizkiana dari SMPN 29. Sejak dulu dia sudah terobsesi dengan pelajaran IPA. Begitu mengenal fisika, dia makin jatuh cinta. Soalnya, rumus-rumusnya unik. "Satu rumus bisa diturunkan lagi jadi rumus lain. Seperti mata rantai, kalau nggak tahu satu, ya nggak bisa jawab. Seru banget kan, bikin sport jantung waktu ulangan," terangnya.

Dia mengakui bahwa fisika memang susah, tapi lebih susah lagi pelajaran menghafal. Lebih banyak update-nya. Misalnya sejarah, makin tua peradaban, makin banyak pula kejadian yang harus dihafal. Beda dengan pelajaran hitungan. "Sejak dulu sampai sekarang, tiga kali tiga ya sembilan, nggak bakal berubah jadi lima, he he," candanya.***(idps)
Print Print   Send Kirim Teman
 
 
 
Berita Lainnya:
  Menyibak Foto Gadis Belia di iPhone
19 September 2008, 04:20 WIB
  Red Alert: Pengecut Dilarang Telepon!
02 Mei 2008, 07:45 WIB
  Badan Jadi Sehat, Bumi Tersenyum
22 April 2008, 07:27 WIB
  Obat Penenang Made in Ortu
16 April 2008, 08:17 WIB
  Laskar SMP-SMA Bersiap Hadapi Unas
15 April 2008, 08:34 WIB
Berita Terkait:
  Bus Sekolah Datang Lagi
10 Desember 2008, 11:20 WIB
  Badan Jadi Sehat, Bumi Tersenyum
22 April 2008, 07:27 WIB
  Laskar SMP-SMA Bersiap Hadapi Unas
15 April 2008, 08:34 WIB
  Wi-Fi (Wajib) Masuk Sekolah,
Sarana Belajar Plus Bikin Otak Makin Kreatif

31 Maret 2008, 09:01 WIB
  Minta Ajari Senior, Dijamin Paham
17 Maret 2008, 12:15 WIB
 
 
 
 
  Arsip