HOME    
Nasional - Humaniraya - Metro - Ekbis - Mancanegara - Kesehatan - Iptek - Sketsa Muda - Entertainment - Sportif
Kosmopolitan - Etalase - Sosok - Keluarga - Fashion - Suplemen - Resensi - Kolom - Ruang Publik
Layan Publik - Aneka - Transportasi - Kursus/PLS - Agen - Iklan Baris - Harga-harga - Tentang Kami
MESIN PENCARI


   
 
Peresepan Elektronik untuk Keamanan Pengobatan

Rizaldy Pinzon, dr, MKes, SpS *) (26/12/2007 - 17:42 WIB)


Jurnalnet.com (Jogja): Seorang teman baru saja meninggalkan ruang praktek dokter. Ia menunggu antrian di loket apotek RS untuk menyerahkan resepnya. Sembari menunggu, ia mengamati dengan seksama resep yang ia terima. Teman tadi semakin menatap lekat resep, dan berusaha keras untuk membacanya. Ketika ia duduk di ruang tunggu, ia mengrim SMS ”apakah tulisan semua dokter selalu sulit untuk dibaca? Ataukah ada mata kulaih tersendiri untuk menulis jelek ?” Sebuah pertanyaan yang sangat menggelitik untuk ditelaah lebih lanjut.

Pertanyaan diatas kerap diajukan dalam beberapa forum diskusi. Jawaban yang dapat diberikan adalah ”tidak ada mata kuliah khusus untuk tulisan dokter yang kadangkala sukar dibaca”. Pada kenyataannya banyak pula dokter yang memiliki tulisan tangan yang sangat jelas dan mudah dibaca. Pada beberapa kasus tulisan yang sukar dibaca, lebih diakibatkan karena proses menulis yang cepat. Proses penulisan yang cepat dilakukan untuk mempersingkat waktu antrian pasien yang harus dilayani.

Pada sebuah acara seminar nasional baru-baru ini, sekelompok peneliti dari Universitas Sanata Dharma menunjukkan data bahwa 62% pasien yang memperoleh resep menyatakan bahwa resep yang diterimanya sukar untuk dibaca. Kesulitan membaca resep juga dialami oleh para apoteker dan asisten apoteker. Data penelitian memperlihatkan bahwa 25% apoteker dan 40% apoteker menyatakan bahwa tidak ada resep yang tidak jelas dan tidak terbaca dalam 1 bulan teakhir. Hal ini berarti bahwa kurang lebih 75% apoteker setidaknya menemui 1 resep yang tidak jelas dalam 30 hari terkahir. Meminta dokter untuk merubah tulisannya juga sangat sulit. Bagaimana solusinya?

Keamanan pengobatan

Data penelitian memperlihatkan bahwa kesalahan pengobatan bukan merupakan hal yang jarang terjadi di RS. Kesalahan pengobatan dan efek samping obat terjadi pada rata-rata 6,7% pasien yang masuk ke rumahsakit. Diantara kesalahan tersebut, 25-50% dapat dicegah, sebagian besar berasal dari kesalahan peresepan, dan 78% terjadi akibat kegagalan sistem.

Penelitian Jayawardena, dkk (2005) menemukan bahwa terjadi 7,53 kesalahan per 1000 peresepan. Kesalahan dosis umum dijumpai. Kesalahan lain yang umum dijumpai adalah kesalahan pemberian obat akibat tulisan tidak terbaca. Penelitian menemukan bahwa teknologi informasi dengan sistem peresepan berbasis komputer secara signifikan menurunkan kesalahan pengobatan.

Hasil penelitian memunjukkan bahwa hampir 40% kesalahan pengobatan muncul dari proses peresepan dan kesalahan pembacaan resep. Lihat contoh resep dibawah ini resep ini mungkin bisa membingungkan antara Tequin (sebuah antibiotika) atau tegretol (sebuah obat anti epilepsi). Bayangkan bila seseorang dengan infeksi saluran nafas akut yang harusnya mendapat antibiotika dan kemudian mendapat obat anti epilepsi. Konfirmasi bisa dilakukan bila pasien mengambil resep di apotik RS. Apoteker RS dapat menelpon dokter untuk menanyakan kembali resep yang tidak jelas. Pada banyak kasus di Indonesia, pasien mengambil resep di luar RS. Hasil observasi memperlihatkan banyak apotek yang tidak mengkonfirmasi, bahkan mengganti obat tanpa sepengetahuan dokter.

Kajian Waliser, dkk (2007) menunjukkan bahwa kesalahan pengobatan yang umum dijumpai adalah salah nama obat, salah dosis, dan salah interval pemberian. Penelitian memperlihatkan bahwa kesalahan pengobatan umum dijumpai pada pasien di ICU, pasien tua, dan pasien dengan penurunan kesadaran di RS.

Kesalahan pengobatan umum terjadi karena tulisan yang tidak jelas, salah menginterpretasikan resep, obat yang namanya mirip, kesalahan dosis, kesalahan aturan pakai, dan kesalahan identifikasi pasien. Teknologi informasi memiliki peran besar untuk bisa mengatasi hal tersebut.

Peresepan elekronik

Penggunaan teknologi informasi diharapkan dapat meningkatkan keselamatan pasien/ patient safety. Pada tahun 2004 Agency for Healthcare Research and Quality menganggarkan $ 60 juta bagi pengembangan teknologi informasi untuk menunjang patient safety. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan efektivitas penggunaan sistem komputer untuk memperbaiki praktek peresepan, mengurangi medication error, dan meningkatkan kepatuhan terhadap pelaksanaan standar pelayanan (clinical practice guideline).

Perbaikan sistem merupakan solusi untuk mencegah kesalahan pengobatan di masa datang, dan bukan menyalahkan individu. Teknologi informasi di bidang obat merupakan potensi besar untuk mengurangi risiko kesalahan pengobatan. Kajian Subramanian, dkk (2007) memperlihatkan bahwa Computerized Physician Order Entry (CPOE) dapat sangat bermanfaat untuk menurunkan risiko medication error. Biaya yang cukup besar merupakan penghalang utama pengembangan CPOE secara luas.

Coba lihat contoh tampilan resep elektronik diatas. Kesalahan nama obat, dosis, dan cara pemberian akan sangat dikurangi. Dokter akan dihadapkan pada tampilan menu yang sangat jelas. Dosis obat pun akan tidak keliru. Bila sistem peresepan elektronik dilampirkan dengan rekam medis pasien maka akan didapatkan riwayat pengobatan yang lengkap. Adaptasi sistem ini untuk menggantikan peresepan manual memerlukan waktu pula. Adaptasi ini termasuk merubah cara pandang sebagian dokter, membekali ketrampilan komputer, dan persiapan sumber daya yang memadai.***


*) Bekerja dan tinggal di Yogyakarta, medidoc2002@yahoo.com
Print Print   Send Kirim Teman
 
 
 
Kolom Lainnya:
  RUU-RUU Pengancam Kebebasan Pers
19 Desember 2007, 18:40 WIB
  Kapan terakhir terima surat dari pak pos?
18 Desember 2007, 18:45 WIB
  Fakta Baru tentang Telpon Genggam dan Tumor Otak
17 Desember 2007, 10:47 WIB
  Masa Depan Teknologi Informasi Kesehatan
12 Desember 2007, 12:43 WIB
  Hipertensi sebagai 'The Silent Killer'
07 Desember 2007, 06:20 WIB
 
 
 
  Arsip 
 
 
KOMUNITAS LINK
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
lainnya