HOME
Nasional
-
Humaniraya
-
Metro
-
Ekbis
-
Mancanegara
-
Kesehatan
-
Iptek
-
Sketsa Muda
-
Entertainment
-
Sportif
Kosmopolitan
-
Etalase
-
Sosok
-
Keluarga
-
Fashion
-
Suplemen
-
Resensi
-
Kolom
-
Ruang Publik
Layan Publik
-
Aneka
-
Transportasi
-
Kursus/PLS
-
Agen
-
Iklan Baris
-
Harga-harga
-
Tentang Kami
MESIN PENCARI
--==SEMUA==--
BERITA
POPULAR
ASPIRASI
Buku:
Pengajaran Pendidikan Karakter
M. Nurul Ikhsan *) (28/04/2008 - 04:42 WIB)
Jurnalnet.com (Jogja):
Judul buku: Pendidikan Karakter; Strategi Mendidik Anak di Zaman Modern
Penulis : Doni Koesoema A.
Penerbit: PT. Grasindo, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2007
Tebal: viii + 320 halaman
“Manusia hanya dapat menjadi sungguh-sungguh manusia melalui pendidikan dan pembentukan diri yang berkelanjutan. Manusia hanya dapat dididik oleh manusia lain yang juga dididik oleh manusia yang lain.” (IMMANUEL KANT)
Istilah karakter dipakai secara khusus dalam konteks pendidikan baru muncul pada akhir abad-18, dan untuk pertama kalinya dicetuskan oleh pedadog Jerman F.W.Foerster. Terminologi ini mengacu pada sebuah pendekatan idealis-spiritualis dalam pendidikan yang juga dikenal dengan teori pendidikan normatif. Yang menjadi prioritas adalah nilai-nilai transenden yang dipercaya sebagai motor penggerak sejarah, baik bagi individu maupun bagi sebuah perubahan sosial.
Namun, sebenarnya pendidikan karakter telah lama menjadi bagian inti sejarah pendidikan itu sendiri. Misalnya, dalam cita-cita Paideia Yunani dan Humanitas Romawi. Pendekatan idealis dalam mayarakat modern memuncak dalam ide tentang kesadaran Roh Hegelian. Perkembangan ini pada gilirannya mengukuhkan dialektika sebagai sebuah bagian integral dari pendekatan pendidikan karakter.
Lahirnya pendidikan karakter bisa dikatakan sebagai sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme yang dipelopori oleh filsuf Prancis Auguste Comte. Foerster menolak gagasan yang meredusir pengalaman manusia pada sekadar bentuk murni hidup alamiah.
Dalam sejarah perkembangannya memang manusia tunduk pada hukum-hukum alami, namun kebebasan yang dimiliki manusia memungkinkan dia menghayati kebebasan dan pertumbuhannya mengatasi sekadar tuntutan fisik dan psikis semata. Manusia tidak semata-mata taat pada aturan alamiah. Melainkan kebebasan itu dihayati dalam tata aturan yang sifatnya mengatasi individu, dalam tata aturan nilai-nilai moral. Pedoman nilai merupakan kriteria yang menentukan kualitas tindakan manusia di dunia.
Buku ini membahas sejarah panjang bagaimana pendidikan karakter berkembang dalam sejarah peradaban umat manusia, asumsi-asumsi pokok di balik raihan tersebut, secara khusus bagaimana pemahaman konseptual tentang manusia sebagai homo educans (manusia yang belajar) yang terlahir dari dinamika sejarah tersebut.
Selain meletakkan sejarah pendidikan karakter dalam lingkup global, juga disajikan kilasan tentang sejarah pendidikan karaker dalam konteks ke indonesiaan dengan menyelami secara khusus pendidikan karakter seperti digagas para pemikir Indonesia, terutama oleh Soekarno, melalui gagasannya tentang pembentukan karakter bangsa, tentang Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, serta relevansi, tantangan dan perkembangannya bagi pendidikan karakter di Indonesia.
Dinamika pemahaman pendidikan karakter dalam buku ini berproses melalui tiga moment: momen historis, momen reflektif, dan momen praktis. Momen historis, yaitu usaha merefleksikan pengalaman umat manusia yang bergulat dalam menghidupi konsep dan praksis pendidikan khususnya dalam jatuh bangun mengembangkan pendidikan karakter bagi anak didik sesuai dengan konteks zamannya.
Momen reflektif, sebuah momen yang melalui pemahaman intelektualnya manusia mencoba mendefinisikan pengalamannya, mencoba melihat persoalan metodologis, filosofis, dan prinsipil yang berlaku bagi pendidikan karakter. Momen praktis, yaitu dengan bekal pemahaman teoritis-konseptual itu, manusia mencoba menemukan secara efektif agar proyek pendidikan karakter dapat efektif terlaksana di lapangan(halaman 308).
Membentuk kepribadian
Pendidikan karakter pada hakikatnya ingin membentuk individu menjadi seorang pribadi bermoral yang dapat menghayati kebebasan dan tanggung jawabnya, dalam relasinya dengan orang lain dan dunianya di dalam komunitas pendidikan. Komunitas pendidikan ini bisa memiliki cakupan lokal, nasional, maupun internasional (antar negara).
Dengan demikian, pendidikan karakter senantiasa mengarahkan diri pada pembentukan individu bermoral, cakap mengambil keputusan yang tampil dalam perilakunya, sekaligus mampu berperan aktif dalam membangun kehidupan bersama. Singkatnya, bagaimana membentuk individu yang menghargai kearifan nilai-nilai lokal sekaligus menjadi warganegara dalam masyarakat global dengan berbagai macam nilai yang menyertainya.
Dalam buku ini, penulis memberikan semacam cercahan ide dan gagasan tentang praktis pendidikan karakter yang diterangi dengan pemahaman konseptual yang kurang lebih konprehensif. Karena pemahaman konseptual yang baik merupakan setengah jalan dari keberhasilan praktis pendidikan karakter.
Tanpa pemahaman konseptual yang jelas, segala usaha yang bagi pengembangan pendidikan karakter defisit dalam hal visi sehingga praktis tentang pendidikan karakter bisa salah sasaran dan dan kurang efektif. Oleh karena itu, melalui pemahaman dan kerangka teoritis atas berbagai macam prinsip yang berlaku dalam pendidikan karakter, program-program pendidikan karakter konteks lembaga pendidikan dapat direalisasikan.
Jika dilihat dari dinamika relasi antaralembaga, pendidikan karakter pada hakekatnya adalah proses pendidikan manusia sebagai agen bagi perubahan tata sosial dalam masyarakatnya berdasarkan nilai-nilai moral dan nilai-nilai kemanusiaan pada umumnya. Pendidikan karakter dalam artian ini membentuk pribadi bermoral yang terlibat aktif dalam masyarakat dengan menciptakan struktur dan lingkungan yang membantu pertumbuhan moral individu.
Dengan demikian, tantangan berat yang akan dihadapi adalah bagaimana meretas penindasan sekelompok individu terhadap komunitaas lain, bahkan terhadap komunitas besar yang disebut bangsa atau lembaga supranasional yang emoh nilai moral dan anti nilai-nilai kemanusiaan.
Tantangan ini mewajibkan masyarakat untuk mengaktualisasikan proyek pendidikan karakter di dalam lembaga pendidikan, dengan persepektif baru, yaitu nilai baru yang disebut belarasa bagi kemanusiaan.
Kehadiran pendidikan karakter mengandaikan adanya visi tentang manusia yang integral, pemahaman tentang tujuan pendidikan yang visioner, dan pemahaman tentang nilai-nilai yang berlaku universal.
Terlebih lagi, pendidikan karakter memerlukan basis kepercayaan yang mendalam, bahwa manusia berkembang bukan hanya memenuhi panggilan kodratnya dalam kehidupan bersama didalam masyarakat, melainkan menanggapi tawaran adikodratinya sebagai makhluk mampu megatasi diri, melalui kebebasan dan pemikirannya.
Inilah sebuah buku yang menawarkan sejumlah gagasan yang spesifik dan menarik seputar pendidikan karakter.
*) Peresensi adalah Pemerhati masalah buku tinggal di Yogyakarta
Print
Kirim Teman
Resensi Lainnya:
Melihat Pemikiran 50 Sejarawan Dunia
24 April 2008, 06:44 WIB
Menggugat Kebijakan Privatisasi di Indonesia
23 April 2008, 06:43 WIB
Bob Marley, Musik, dan Kedamaian Jamaika
21 April 2008, 15:42 WIB
Menguak Institusi Kebudayaan sebagai Alat Politik
17 April 2008, 02:51 WIB
Cinta dari Daratan Tibet
16 April 2008, 04:43 WIB
Arsip
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
2003
2004
2005
2006
KOMUNITAS LINK
Tangan Di Atas
Indonesia Membaca
Pena
Desainer Grafis
Indonesia Bergerak
Menteri Desain
Jasa SPG
Pfizer Peduli
Indo Kado
Menulis Mudah
Khatulistiwa
Elektronik Glodok
Lirik Lagu
Pantau Hak EKOSOB
Buku Kita
baba flash
Pijar Cendikia
Jangan BUGIL
Dictionary
ITC Manggadua
Pembelajar
Wirausaha
Endonesia Dot Com
Seputar Wanita
Rumah Dunia
Belajar Hipnotis
Tabloid-Untung
Kemitraan/partner..
Info IBU
RESEP Kuliner
FRANCHISE
Lingkar Pena
Kamus Ind-Eng
Badan Narkotika RI
Harun Yahya
Dompet Dhuafa
Aspirasi Anak Dun..
Kreatifitas Anak
Jasakerja IPB
Baby Centre
Dana Mandiri
Cetro
Proses Legislasi
Imparsial
KontraS
YLKI (konsumen)
Romy Rafael
Buku & Cerita Bij..
Buku
Ombudsman
lainnya
All content © Copyright 1 Ramadhan 1425H JURNALNET.COM. Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Dilarang memperbanyak artikel yang termuat pada halaman JURNALNET.COM, tanpa seizin JURNALNET.COM.
Web Development PT. Internusa Sarana Perdana (Group)