HOME    
Nasional - Humaniraya - Metro - Ekbis - Mancanegara - Kesehatan - Iptek - Sketsa Muda - Entertainment - Sportif
Kosmopolitan - Etalase - Sosok - Keluarga - Fashion - Suplemen - Resensi - Kolom - Ruang Publik
Layan Publik - Aneka - Transportasi - Kursus/PLS - Agen - Iklan Baris - Harga-harga - Tentang Kami
MESIN PENCARI


   
 
Sekolah Bisnis di Ngeban Resto

Koirom *) (17/03/2010 - 07:23 WIB)


Jurnalnet.com (Jogja): Membicarakan berapa banyak warung kopi di Yogyakarta memang sudah terdengar tidak asing lagi. Mulai dari warung kopi Blandongan, Kopi Code, Kopi Jos, Kopi Nusantara, Kopi Mato, dan bahkan sampai pada warung-warung kopi kecil lainnya yang menjadi sumber perekonomian masyrakat Yogya sendiri.

Kita semua tentu tahu, bahwa warung kopi yang berdiri di kota Yogyakarta bukan hanya sekedar menguntungkan sebelah pihak, “si-penjualnya”. Akan tetapi, warung kopi di Yogyakarta juga penulis katakan tak ubahnya sebagai ruang kampus yang berbasis kultural. Artinya, telah banyak fakta yang membuktikan bahwa mahasiswa mencetuskan sebuah ide dan gagasannya untuk sebuah kemajuan karir di warung-warung kopi Yogyakarta.

“Kita itu bisa membangun dan mencetuskan satu lembaga atau farum kecil yang menguntungkan di dunia kampus cukup di warung kopi. Dimana tempat yang tidak bisa kita dapatkan di ruang kuliah”, tutur saudara Abu Laka mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam farum rapat BEM-J MD di waung kopi Ngeban (12/03), ketika dia dan teman-temannya berhasil mencetuskan farum yang bernama FOKER MANDALA (Forum Komunikasi Mahasiswa Manajemen Dakwah Lintas Angkatan).

Penulis sadari, bahwa setiap warung kopi memiliki cirikhas dan model yang berbeda-beda. Warung kopi Nusantara tentu berbeda dengan warung kopi Code, kopi Code tentu berbeda dengan warung kopi Jos, warung kopi Jos pastinya juga berbeda dengan warung kopi Blandongan. Begitupun warung kopi Ngeban yang jauh memiliki perbedaan dengan warung-warung kopi lain yang ada di Yogyakarta. Mulai dari desaign tata ruang, menu, manajemen, pelayanan, dan bahkan sampai pada kepuasan pelangganpun ada perbedaan yang signifikan. Apalagi dalam segi omsetnya, tentu dari masing-masing warung kopi memiliki perbedaan.

Adanya perbedaan inilah yang membuat penulis sangat simpatik terhadap warung kopi Ngeban, terutama dalam segi “manajemennya”. Warung kopi Ngeban yang berdiri tanggal 12 Maret 2004, dia telah usai melaksanakan ulang tahunnya yang ke-6 pada 12 Maret 2010 kemarin. Enam tahun Ngeban beridiri, telah terbukti kehebatan manajemennya. Hal ini terbukti dengan terus berkembang warung kopi Ngeban, baik dari segi luas lokasi, aneka ragam menu yang tersedia, sampai pada pendidikan karyawan yang selalu aktif kerja di warung kopi Ngeban.

Dengan kehebetan pengelolaan bisnis yang luar biasa inilah, secara otomatis tidak heran jika Ngeban selalu ramai didatangi pengunjung hingga detik ini. Hal tersebut memang sejalan dengan visi warung kopi Ngeban, yang secara garis besar visi-nya adalah “menciptakan warung kopi/warung makan yang mampu mensejahterakan orang-orang di sekelilingnya (pengunjung) dan terutama karyawannya”, ungkap beliau Bapak Muhammad Nur Wakhid selaku pimpinan perusahaan Ngeban Resto saat memperingati hari ulang tahun Ngeban yang ke-6 (12/03) kemarin kepada seluruh karyawannya.

Visi tersebut diwujudkan dalam bentuk misi yang sangat sederhana, namun teramat sulit bagi karyawannya jika mereka tidak terbiasa dengan aktifitas kerja di warung kopi Ngeban. Penulis menarik kesimpulan dari misi Ngeban yang dilantukan oleh pimpinan Ngeban itu sendiri; pertama, menciptakan nuansa harmonis dan keromantisan lingkungan.

Hal ini dapat kita lihat dari bagaimana letak dan tata ruang warung kopi Ngeban yang disediakan. Mulai dari tempat lesehan tanpa meja, lesehan dengan meja, kursi-meja yang diberi tenda, dan sampai pada kursi-meja yang tanpa diberi tenda sehingga pengunjung mampu menatap luas ke langit dan suasana sekitarnya.

Misi kedua, menciptakan nuansa sederhana. Kesedarhanaan inilah yang sangat ditekankan oleh pimpinan Ngeban Resto, Pak Wakhid panggilannya. Kesederhanaan yang diwujudkan dalam bentuk bangunan yang sampai sekarang menjadi tempat duduk pelanggan setia Ngeban.

Begitu juga dengan nuansa sekitarnya yang tetap dipertahankan kealamian pepohonan yang munjulang tinggi disekelilingnya. Bahkan sampai pada tiang yang digunakan untuk bangunannya saja masih dalam bentuk kayu utuh. Ditambah dengan mengalirnya air sungai kecil yang memotong antara denah lokasi sebelah timur dan barat menambah nuansa sederhana yang makin romantis.

“Ngeban memang sengaja memanfaatkan sesuatu yang selalu dianggap orang itu adalah sepele dan tidak berguna, padahal jika itu dikemas dengan kemasan yang indah, mereka akan terpesona dengan keindahan yang alami itu”, lanjut Pak Wakhid ketika mengutarakan sedikit tentang Ngeban di hari ulang tahun perusahaannya ini di hadapan seluruh karyawan Ngeban.

Tak hanya itu, banyak sekali pelanggan yang menanyakan tentang “mengapa ngeban tidak menyediakan hospot untuk pelanggan, padahal pelanggan ramai. Ada pula yang menanyakan, mengapa Ngeban tidak mengadakan pemutaran sepak bola dengan fasilitas LCD dan dapat ditoton banyak pelanggan. Dan ada juga yang menanyakan mengapa Ngeban tidak mengundang group-group bend muda setiap malam atau setiap sekali dalam seminggu”. Hal itu memang sengaja tidak dilakukan oleh pimpinan Ngeban. Jika itu dituruti, maka hilanglah nuansa kesederhanaan Ngeban Resto yang dipertahankan sang pimpinan.

Ketiga, meningkatkan kualitas menu. Ngeban menyediakan berbagai macam menu yang selalu menjadi kesukaan pelanggan. Dulu, tahun 2004 awal pertama kali Ngeban dibuka, dia hanya mampu menghidangkan nasi putih yang sebakulnya seharga Rp. 3000,-, dilengkapi dengan dua sampai tiga sayur biasa semacam sayur kacang, tempe dan menu sederhana lainnya. Kini Ngeban sedikit mengikuti kemajuan zaman dilihat dari segi menu.

Keempat, kualitas kerja karyawan. Mulai dari gliter (petugas keliling mencari nomor pelanggan), waiter (penghantar menu pada pelanggan) bahkan sampai pada juru masakpun sangat diperketat dalam kinerjanya. Seluruh karyawan wajib memakai baju yang berkerah, atau kaos yang berkerah dan wajib dimasukkan, kecuali hari sabtu ketika memakai baju seragam Ngeban. Wajib memakai sepatu, diutamkan sepatu yang tidak menggunakan tali pengikat.

Seluruh rambut karyawan harus pendek dan rapi, tidak boleh memakai acesoris dalam bentuk apapun ketika sedang bekerja. Apalagi bertindik. Tidak boleh sms, telpon-menerima telpon di lokasi kerja, kecuali harus mengalihkan diri di tempat yang tidak diketahui pelanggan. Hp harus di sielent. Karyawan tidak boleh memanggil temannya dengan suara keras. Semua peraturan sangat sulit untuk dilanggar, karena ada istilah dalam Ngeban yang dia disebut “kapten”, atau sebagai tangan kanannya menejer yang bertugas memata-matai kinerja karyawan di lapangan. Intinya, bahwa karyawan harus menciptakan suasana harmonis di area pelanggan.

Dari manajemen dan usaha keras pimpinan Ngeban itulah, kemudian sang pimpinan harus mewajibkan kepada karyawannya untuk suatu saat jika telah keluar dari Ngeban harus menciptakan dunia kerja sendiri. Sehingga tidak menjadi karyawan lagi. Itulah harapan pimpinan Ngeban Resto ketika melanjutkan orasinya saat ultah perusahaannya sekaligus sebagai penutup. Tak heran pula, jika terlalu banyak pelanggan yang menanyakan kepada pelayan Ngeban

“mas, ini yang punya siapa to? Orang mana? Dan tinggal di mana?”. Penulis yakin, bahwa pelanggan yang menanyakan demikian kagum dengan pola dan pengembangan Ngeban Resto. Terakhir dari penulis, meski sederhana, namun omset ngeban satu bulan terakhir, Februari 2010 adalah Rp. 131.000.000,-***

*) Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Sekaligus sebagai karyawan Ngeban Resto.
Print Print   Send Kirim Teman
 
 
 
Berita Lainnya:
  Jangan Gusur Kami
04 Maret 2009, 04:10 WIB
  KEGIATAN SOSIAL
Biar 'Ndeso', tapi 'Nginggris'

03 Maret 2009, 06:36 WIB
  Mari Men-desa-kan Jakarta
02 Maret 2009, 05:20 WIB
  Anak-anak SMP Itu Merakit Ponsel Pengunci Rumah
01 Februari 2009, 17:18 WIB
  Strawberry si Buah Hati
23 Januari 2009, 07:42 WIB
Berita Terkait:
 
 
 
 
  Arsip