HOME    
Nasional - Humaniraya - Metro - Ekbis - Mancanegara - Kesehatan - Iptek - Sketsa Muda - Entertainment - Sportif
Kosmopolitan - Etalase - Sosok - Keluarga - Fashion - Suplemen - Resensi - Kolom - Ruang Publik
Layan Publik - Aneka - Transportasi - Kursus/PLS - Agen - Iklan Baris - Harga-harga - Tentang Kami
MESIN PENCARI


   
 
Wisata
Liburan Musim Panas di Sydney yang Sedang Musim Dingin

DR Hc Anni Iwasaki *) (06/09/2010 - 04:39 WIB)


Jurnalnet.com (Sydney): “Make the most of your stay and enjoy a true Sydney experience by staying in Sydney apartements. Citybase Apartments offer a luxury yet affordable alternative to a hotel giving you the perfect base in this magnificent city”. Begitu kata salah satu pamflet dari biro perjalanan dan menarik kami berlibur dari Tokyo yang sedang musim panas ke musim dingin di belahan benua Australia yang belum kami jejaki.

Berangkat dari Tokyo bersuhu udara nyaris 35 drajad celcius, tengah malam kurang lebih 9 jam terbang bersama Qantas melalui jalur penerbangan udara Guam, Papua terus ke selatan. Tadinya saya kira dari Tokyo-Sydney terbang melewati pulau Jawa, ketika berada di atas pulau Jawa saya berencana akan menelepon satu-satu friends fb mengucapkan “selamat bersahur” melalui telpon yang ada ditempat duduk yang disediakan oleh Qantas.

Dari layar tv disetiap tempat duduk penumpang, selain rilis filem-filem terbaru, dapat dilihat kreativitas masing-masing perusahaan penerbangan menghadirkan beragam gambar navigasi penerbangan. Ada yang hanya menampilkan gambar peta saja dilihat dari atas letak kota Jakarta-Tokyo dan gambar pesawat sedang diatas Viet Nam, misalnya. Tampilan Qantas tampak live, memberikan kesenangan tersendiri saya seperti sedang duduk di kokpit pesawat menyaksikan pesawat sedang menempuh daratan bumi melengkung dalam gelap gulita dan gemerlap bintang-bintang disekeliling terkadang menampak kerlip pulau-pulau dibawah. Ketika matahari terbit seluruh jagad berwarna merah....

Sekitar pukul 7 pagi pesawat mendarat di bandara Sydney. Saat memasuki ruang kedatangan yang kurang mengesankan bandara dari negara maju dengan 14 World-Heritages, hati mulai kecut. Kuatir liburan tidak berlangsung seperti yang kami harapkan. Taksi yang kami tumpangi berdebu layaknya kami sedang dijemput oleh bintang pilem Australia Paul Hogan dalam filem Crocrodile Dandy^^, setiap orang yang ditemui di airport disapa dengan berteriak. Usaha bisnis yang tidak mungkin di lakukan oleh sopir taksi di Tokyo.

Meskipun sinar matahari menyilaukan mata, suhu udara masih dingin dibawah 15 drajad celcius ditambah angin yang berhembus dari teluk Sydney cukup kencang dan menambah rasa dingin.

Memasuki daerah padat gedung menjulang tinggi bangunan-bangunan bernuansa artistik dan kekar meskipun Sydney tidak termasuk dalam wilayah gempa bumi. Tata kota berbentuk blok-blok seperti tata kota umumnya di negara-negara barat fasilitas hunian dan bisnis tidak dibangun melebar melainkan ke atas sehingga sangat mudah mencapai satu gedung ke gedung di sebelahnya.

Tempat pejalan kaki lebih lebar dibandingkan yang ada di AS maupun di Jepang. Para pejalan kaki berlalu lalang masih mengenakan sepatu boot dan mantel tebal tampak masih kedinginan.

Aktivitas pagi hari pertama kota Sydney mulai terasa menyenangkan seperti janji iklan biro perjalanan ketika kami tiba di resident-service Sommerset Darling Harbour di Sussex street, tempat tinggal kami selama seminggu menikmati berumah tangga di Sydney. Menjadi profesional house-wife tanpa pembantu rumah tangga, dengan mengoperasikan peralatan modern rumah tangga layaknya yang dikerjakan oleh para ibu di Sydney.

Sydney: Moderen, Mungil, Energik dan Ramah Lingkungan

Kosmopolitan Sydney adalah ibu kota negara bagian New South Wales, Australia. Sydney berdiri pada tahun 1788 oleh Arthur Phillip. Diantara kota-kota di negeri Kanguru; Brisbane, Adelaide, Perth, Melbourne, Sydney didiami penduduk dengan jumlah terbanyak sekitar 4.5 juta jiwa (saja). Dalam laporan sensus tahun 2006, tiga besar imigran datang dari Inggris, Cina dan New Zealand setelah itu Viet Nam, Lebanon, India, Italia dan Filipina. Kemanapun kaki melangkah tanpa panduan peta pun, anda tidak akan kesasar. Pasti akan ketemu lagi: Sydney Tower, George Street, Hyde Park atau Sydney Harbour.

Sekalipun kesasar pasti sampai di tempat bersih, cafe-cafe, market-market dan orang-orang dari berbagai warna kulit menyebut diri: Sydneysiders, mereka akan menjawab pertanyaan dengan ramah dan sejelas-jelasnya ketika anda mulai bingung dengan logat bahasa Inggris-Australia. Misalnya saat mengucapkan salam ” How are you to day? bisa terdengar ”How are you to die?”^^

Masuk ditoilet manapun, meskipun belum ada wash-let (air pancar pembersih), kondisi toilet tidak ada yang dekil melainkan kering putih dan bersih, kertas toilet kualitas terbaik; lembut, sabun pencuci tangan, air dingin dan air panas, pengering tangan otomat tersedia dengan baik dan tidak perlu membayar. Air ledeng dapat langsung diminum. Di tempat-tempat tertentu tersedia air kran untuk minum.

Selama sepuluh hari menjelajah Sydney kami hanya naik taksi pp dari dan ke bandara saja. Sangat nikmat berjalan kaki di Sydney, tak heran jika bukan warga bule saja yang terlihat sehat dan tegap melainkan warga Asia Tenggara juga terlihat cerdas, cepat dan sigap.

Berjalan Kaki di Sydney

Inilah kosmopolitan. Dibangun berdasarkan prinsip-prinsip akademik-universal komprehensif : dari manusia, oleh manusia dan untuk manusia. Tata kota berdasar kepada kebutuhan manusia sehingga bisa menjadi sarana dan prasarana warga berdaya guna dengan baik. Jumlah penduduk serta fasilitas hidup moderen berikut transportasi umum sangat memadai. Untuk yang berjalan kaki, ada jalannya.

Bagi yang mau bersepeda ada jalurnya. Untuk yang mau naik bis banyak bisnya. Untuk yang mau naik monorail, ada monorilnya. Untuk yang mau naik tram listrik ada tramnya. Untuk yang mau naik cruiser atau kendaraan laut yang lain, tersedia cukup banyak. Untuk yang mau naik mobil pribadi, macet, hanya terjadi jika lampu stopan sedang berwarna merah. Tampaknya disini tidak ada lagi istilah tengah kota dan pinggiran kota.

Sydneysiders ramah terpelajar, dalam arti bukan ramah karena berbasa-basi mengharap persenan seperti yang kerap terjadi di usaha jasa dan pelayanan di AS maupun di Indonesia. Suka atau tidak suka, secara umum bangsa kulit putih dalam bersain, teknologi dan industri identik dengan warga kelas satu dunia. Ketulusan hati warga berkulit putih Australia memiliki nilai plus dalam menghadapi customernya.

Rasa tentram kami sebagai turis langsung terasa. Tidak heran jika Sydney menjadi kota tujuan 7.8 juta turis dan pelaku bisnis dalam negeri dan 2.5 juta pengunjung dari luar negeri (2004, Wikipedia Sydney), lebih banyak pengunjung daripada jumlah penduduknya.

Hal seperti ini bisa diatasi dengan moderenisasi. Kemanusiaan adalah pengembangan intelektual menciptakan sain dan teknologi sehingga lahir industri produk massal dalam memenuhi kebutuhan hidup dan menyelesaikan pekerjaan sehari-hari.

Pengusaha filem FOX Australia memiliki banyak studio filem di kota ini tak heran jika muda-mudi di sini fashionable sekali. Banyak 'Nicole Kidman' (bintang filem cantik dan kesohor Australia) sedang berjalan di jalan-jalan....

Dari Sommerset Darling Harbour tempat tinggal kami melalui Sussex Street berjalan kaki ke selatan menuju ke China-Town. Kiri-kanan jalan berderet cita rasa Asia: toko batu permata, butik, mini market, cafe, rumah makan. Dari rumah makan Cina penyaji dim-sum terkreatif dunia ”Marigold”, kaiten-sushi sampai dengan rumah makan mie baso gepeng Indonesia, ada.

Mau mencari jilbab ala Indonesia? Dijual di Paddy Market di gedung City Market pusat perbelanjaan murah meriah. Ditempat ini dapat ditemui suvenir dari berbagai bangsa dan seni kerajinan tangan dari suku Aborigin, harga-harga bisa ditawar.

Dilantai atas food-court, nasihat, jika datang berdua pesan satu porsi saja dulu.... Keluar gedung area China-Town, mau pijat seluruh badan atau pijat refleksi langsung duduk atau berbaring dipinggir jalan situ, bisa.

Dari China-Town kembali lagi ke utara arah Sommerset, berjalan kaki tapi tidak melalui Sussex Street melainkan melalui George Street. Disepanjang jalan mewah ini adalah daerah komersial, seni, musik dan pusat perbelanjaan papan atas seperti Queen Victoria Building di lantai basement ada Laksa House menjual nasi rendang dan balado terong, Sydney Central Plaza, departemen store Myer dan Strand Arcade.

Melalui George Street bisa bertemu dengan Pitt Street, King Street, Market Street dan Castlereagh Street. Berjajar butik-butik top-class seperti Louis Vuitton, Tiffany dlsb sekalipun tidak membeli untuk mengembangkan pengetahuan dan semangat hidup berwindow-shopping disini, perlu.

Di ujung paling utara George Street adalah Circular Quey yaitu dermaga pelabuhan paling depan dari Sydney Harbour. Dari sini sudah bisa terlihat icon kosmopolitan Sydney-Harbour; ”Opera House” cipta-karya Arsitek Denmark John Utzon.

Pada tahun 2007 memperoleh pengakuan dari UNESCO sebagai World-Heritage. Dalam setahun terselenggara tak kurang dari 1500 seni panggung dengan jumlah penonton 1.2 juta orang. Ditempat ini saja dalam setahun mendatangkan tak kurang dari 7 juta pengunjung.

Panjang jalan George Street dari China-Town-Circular Quey kurang lebih tiga kilometer saja bisa ditempuh kurang dari satu jam berjalan kaki. Namun, bisa juga seminggu tidak selesai jika mampir ke pusat-pusat perbelanjaan apalagi jika tanpa disadari masuk ke pusat pertokoan bawah tanah berderet kios kecil-kecil menawan dengan penawaran diskon lumayan tinggi.

Makanan jadi dan bahan makanan segar berlimpah ruah dalam porsi dan paket ukuran sekali makan warga berkulit putih yang tinggi dan besar. ”Apakah ini bisa dibungkus? Kami ingin membawanya pulang, habis enak sekali sih...” pinta saya hampir selalu kepada pramuniaga restoran sambil menunjuk makanan yang tidak berhasil kami habiskan. Kalau di Jepang teknologi berusaha mencipta ukuran kecil, di Australia menciptakan ukuran serba besar, kekar tapi digigitnya tetap, mak nyus.

Tentang pangan, Sydney menghasilkan 12 persen produk dari total industri pertanian di negara bagian New South Wales ; 55% bunga, 58% produk hasil dari lempeng tanah berumput(turf), 44% usaha pembibitan nasional (nursery), 44% produk nasional daging ternak dan 48% produk nasional telur ( thn 1994-95). O,telurnya enak sekali^_^.

Mau sea food? Mari kita ’pergi’ ke (foto-foto) Sydney Fish Market yang saya sertakan dalam note ini.***

*) Presiden Pusat Studi Jepang Untuk Kemajuan Indonesia (PUSJUKI)

Keterangan foto:
atas: Burung Laut (sea gull) beterbangan dimana-mana. Mengingatkan kepada filem "Birds" by Alfred Hickock. (Pic by: Anni Iwasaki)

bawah: Jumbo oyster... (Pic By: Anni Iwasaki)

Foto-foto dan tautan lengkapnya ada pada:
http://www.facebook.com/kiting.damalis#!/notes/anni-iwasaki/oh-sydney-by-dr-hc-anni-iwasaki/426228155867
Print Print   Send Kirim Teman
 
 
 
Berita Lainnya:
  Ajari Anak Autis Berenang
22 Desember 2009, 01:06 WIB
  Perilaku Makan Anak Sekolah
10 November 2009, 05:36 WIB
  Seleksi Mainan Anak
17 Oktober 2009, 14:29 WIB
  Tips Memilih Sekolah
27 Maret 2009, 08:38 WIB
  Warna Cerah Menarik Perhatian Bayi
13 Januari 2009, 08:08 WIB
Berita Terkait:
 
 
 
 
  Arsip